Langsung ke isiSkip to content
Acehnologi Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Turi droe: mengenal diri sebagai syarat kebudayaanTuri droe: self-knowledge as the precondition of culture

Turi droe (kenali diri) dipandang sebagai prasyarat bagi orang Aceh untuk menjadi pencipta kebudayaan. Kerangkanya bertumpu pada tiga konsep: ‘saya’ (lon), keberadaan (na), dan tindakan. Pengenalan diri dikaitkan dengan pendalaman Islam dari syariat hingga makrifat, sebagaimana diajarkan Hamzah Fansuri. Hanya mereka yang telah mampu menafsirkan keberadaannya yang dianggap layak menghasilkan ungkapan dan karya budaya bermakna.

Turi droe ('know yourself') is regarded as the precondition for Acehnese people to become creators of culture. The framework rests on three concepts: the 'I' (lon), being (na) and action. Self-knowledge is tied to deepening one's Islam from sharia to ma‘rifa, as taught by Hamzah Fansuri. Only those who can interpret their own existence are deemed able to produce meaningful expressions and cultural works.

Kerangka ini lahir dari pengamatan atas kebudayaan Aceh di tepi laut dan dimaksudkan untuk menemukan ‘keaslian’ manusia Aceh. Pertanyaan-pertanyaan pokoknya dirumuskan dalam bahasa Aceh: bagaimana orang Aceh mengetahui arah dirinya, meluruskan dirinya, menempatkan dirinya, menampakkan dirinya, dan mengenal dirinya. Jawaban atas pertanyaan itu berbeda menurut ruang dan waktu, tetapi pada masa lalu dicari dalam ajaran Islam yang dirumuskan ulama ke dalam kitab.

Generasi awal pemikir Aceh dipandang selalu mengaitkan pengenalan diri dengan pengenalan Pencipta; Hamzah Fansuri menjadi contoh utama. Setelah pemikirannya disingkirkan, kajian tentang pengenalan diri tidak lagi menjadi arus utama dan bertahan di kelompok-kelompok kecil yang kerap digiring ke ranah mistik. Meskipun demikian, kemampuan menemukan ‘kesayaan’ tetap dipandang sebagai sumber ungkapan-ungkapan bijak dalam budaya Aceh.

Dari turi droe lahir fondasi tindakan berupa falsafah ingat, seimbang, dan syukur. Kerangka ini juga berfungsi kritis: bila makna hakikat suatu tradisi tidak lagi diketahui, kebudayaan merosot menjadi ritual dan simbol belaka. Proses peuturi (memperkenalkan) bahkan diusulkan sebagai jalan penyadaran bagi para pemegang kekuasaan masa kini. Bagi kajian kebudayaan, turi droe menawarkan cara membaca tradisi dari dalam: setiap praktik budaya ditanya bukan hanya apa bentuknya, tetapi juga kesadaran diri macam apa yang melahirkannya dan apakah kesadaran itu masih hidup di tengah pelakunya.

The framework arises from observation of coastal Acehnese culture and is meant to uncover the 'authenticity' of the Acehnese person. Its guiding questions are phrased in Acehnese: how do Acehnese know their direction, straighten themselves, locate themselves, show themselves and recognise themselves? The answers vary with time and place, but in the past they were sought in Islamic teaching that ulama set down in books.

Early Acehnese thinkers are seen as always linking knowledge of the self with knowledge of the Creator, with Hamzah Fansuri as the chief example. After his thought was suppressed, the study of self-knowledge ceased to be mainstream and survived in small circles often pushed towards mysticism. Even so, the capacity to discover one's 'selfhood' is still seen as the source of the wise sayings of Acehnese culture.

From turi droe arises a foundation for action in the philosophy of remembrance, balance and gratitude. The framework is also critical: when the inner meaning of a tradition is no longer known, culture decays into mere ritual and symbol. The process of peuturi (making known) is even proposed as a path of awakening for today's power-holders.

Gagasan kunciKey ideas

Lon, na, tindakanI, being, action

Tiga konsep untuk membaca kemampuan orang Aceh mencipta dan mempertahankan kebudayaan.Three concepts for reading how Acehnese create and sustain culture.

Mengenal diri, mengenal TuhanKnow self, know God

Pengenalan diri diikat pada perjalanan syariat–hakikat–makrifat.Self-knowledge is tied to the path of sharia, haqiqa and ma‘rifa.

Dari substansi ke simbolFrom substance to symbol

Tradisi tanpa pemahaman hakikat menjadi ritual semata.Tradition without inner understanding becomes mere ritual.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Apakah pengenalan diri dalam pengertian sufistik masih dapat menjadi dasar pendidikan dan kepemimpinan di Aceh masa kini?Can self-knowledge in the Sufi sense still ground education and leadership in Aceh today?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Turi droe: mengenal diri sebagai syarat kebudayaan”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/turi-droe/