Langsung ke isiSkip to content
Acehnologi Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Masa keemasan lada pantai barat dan saudagar SalemThe west-coast pepper boom and the Salem merchants

c. 1800–1830-anc. 1800–1830s

Antara 1800 dan 1830 kawasan di bawah kekuasaan nominal Kesultanan Aceh, terutama pantai barat, menjadi penghasil lada paling menguntungkan di dunia; menurut Anthony Reid, pada 1820-an Aceh memasok lebih dari separuh lada dunia. Perdagangan ini dikuasai uleebalang pantai barat yang menjual langsung kepada saudagar Salem, sehingga kesultanan tersisih. Ironisnya, perdagangan yang sama melibatkan Inggris dan membantu menunda invasi Belanda.

Between 1800 and 1830 the territories under the nominal rule of the Acehnese sultanate, above all the west coast, became the world’s most lucrative pepper-growing area; according to Anthony Reid, by the 1820s Aceh supplied over half the world’s pepper. The trade was controlled by west-coast uleebalang who sold directly to Salem merchants, cutting the sultanate out. Ironically, the same trade drew in Britain and helped postpone the Dutch invasion.

Sejak akhir abad ke-17 pelabuhan-pelabuhan lain mulai menggeser kesultanan dari jaringan Samudra Hindia, tetapi Aceh kembali ke pusat perdagangan dunia pada awal abad ke-19 melalui jalur yang tidak terduga, yakni desentralisasi. Uleebalang pantai barat bertindak sebagai penguasa daerah yang nyaris tanpa campur tangan sultan dan mengelola kebun lada. Pembelinya hampir semuanya saudagar Salem dengan kapal berdasar datar yang mampu berlabuh di beting sempit. Para uleebalang menjadi kaya, dan sebagian kekayaan itu mengalir ke pekerja kebun dan jaringan klien mereka.

Ketika pecah perang memperebutkan perdagangan lada antara Sultan Jauhar al-Alam Syah (memerintah 1795–1823) dan salah satu uleebalang lada utama pantai barat, Inggris yang berkepentingan dengan perdagangan Aceh–Pulau Pinang mendukung sultan. Kedua pihak menandatangani perjanjian 1819 yang membentuk persekutuan pertahanan Aceh–Inggris. Bahkan setelah Traktat London 1824 membagi lingkup pengaruh Inggris di Semenanjung dan Belanda di Nusantara, perjanjian 1819 tetap mencegah Belanda mengklaim kedaulatan atas Aceh. Baru pada 1871, ketika Inggris mengubah hubungan hukumnya sehingga tak lagi wajib membela Aceh, kesultanan menjadi sasaran terbuka ekspansi Belanda.

Perdagangan ini meninggalkan jejak dalam pola sosial dan rumah tangga, dan melahirkan hikayat berbahasa Aceh: satu meratapi kerusakan moral akibat perdagangan, satu lagi tentang kiprah seorang uleebalang pantai barat. Di Kuala Batee masih ada nisan berinskripsi Inggris kiriman saudagar Salem untuk syahbandar yang wafat pada 1824, dan peristiwa penyerangan kapal Friendship (1831) disusul serangan balasan fregat Potomac (1832).

Meski demikian, masa keemasan lada tidak pernah dimasukkan ke dalam empat untai narasi besar sejarah Aceh. Birchok menduga sebabnya adalah kesultanan, pusat hampir semua narasi itu, sedang lemah pada masa ini. Mohammad Said membahasnya di bawah judul tentang akibat perang saudara, seakan menandai titik rendah. Akibatnya, kebanyakan orang Aceh hanya samar-samar mengenal sejarah yang sesungguhnya menempatkan pantai barat-selatan dalam ekonomi global.

From the late seventeenth century other ports began to displace the sultanate in Indian Ocean networks, but Aceh returned to the centre of world trade in the early nineteenth century by an unexpected route: decentralisation. West-coast uleebalang acted as regional strongmen with little interference from the sultan and ran pepper plantations. Their buyers were almost all Salem merchants with flat-bottomed ships able to anchor in the narrow shoals. The chiefs grew rich, and some of the wealth trickled to plantation workers and client networks.

When war broke out over the pepper trade between Sultan Jauhar al-Alam Syah (r. 1795–1823) and one of the main pepper-growing chiefs of the west coast, Britain, invested in the Aceh–Penang trade, backed the sultan. The two parties signed an 1819 treaty establishing a defensive alliance between Aceh and Britain. Even after the 1824 Treaty of London divided British influence on the Peninsula from Dutch influence in the archipelago, the 1819 treaty kept the Netherlands from claiming sovereignty over Aceh. Only in 1871, when Britain altered its legal relationship so that it no longer had to defend Aceh, did the sultanate become an open target of Dutch expansion.

The trade left marks on social and domestic patterns and inspired Acehnese-language hikayat: one lamenting the moral damage wrought by the trade, another on the exploits of a west-coast chief. At Kuala Batee an English-inscribed headstone sent by Salem merchants for a syahbandar who died in 1824 still survives, and the attack on the ship Friendship (1831) was followed by a reprisal by the frigate Potomac (1832).

Yet the pepper boom was never incorporated into the four great narrative strands of Acehnese history. Birchok suggests the reason is that the sultanate, the focus of nearly all of them, was weak at the time. Mohammad Said treated the period under a heading on the consequences of civil war, as if marking a low point. As a result most Acehnese know only vaguely a history that actually placed the south-west coast in the global economy.

Gagasan kunciKey ideas

Kekayaan tanpa istanaWealth without the palace

Masa lada menunjukkan kemakmuran Aceh yang berpusat pada uleebalang, bukan sultan.The pepper era shows Acehnese prosperity centred on uleebalang, not the sultan.

Lada dan diplomasiPepper and diplomacy

Perjanjian 1819 dengan Inggris, lahir dari konflik lada, menunda klaim Belanda hingga 1871.The 1819 treaty with Britain, born of a pepper conflict, held off Dutch claims until 1871.

Sejarah yang terlupakanA forgotten history

Karena tidak berpusat pada kesultanan, masa ini tersisih dari narasi besar.Because it did not centre on the sultanate, this era was left out of the grand narratives.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Mengapa kemakmuran yang dikelola uleebalang di pinggiran kurang dikenang dibanding kejayaan istana di pusat?Why is prosperity managed by uleebalang on the periphery remembered less than the glory of the court at the centre?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Masa keemasan lada pantai barat dan saudagar Salem”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/perdagangan-lada-pantai-barat/

Ekosistem KBA13KBA13 InsightKBA13 AcademyAcehnologiArsip & PustakaPeta Ekosistem →