Langsung ke isiSkip to content
Acehnologi Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Smong: pengetahuan tsunami SimeulueSmong: Simeulue's tsunami knowledge

Diwariskan sejak tsunami 4 Januari 1907; terbukti pada 26 Desember 2004Transmitted since the tsunami of 4 January 1907; proven on 26 December 2004

Smong adalah pengetahuan masyarakat Simeulue bahwa gempa kuat harus segera disusul dengan lari ke bukit, karena laut dapat naik. Pengetahuan ini diwariskan melalui nandong, nyanyian pengantar tidur, sejak tsunami 4 Januari 1907, dan pada 26 Desember 2004 menyelamatkan hampir seluruh penduduk pulau. Smong menjadi bukti bahwa pengetahuan risiko bertahan lama bila melekat pada praktik budaya, bukan pada proyek.

Smong is the Simeulue people's knowledge that a strong earthquake must be followed at once by running to the hills, because the sea may rise. Transmitted through nandong, lullabies, since the tsunami of 4 January 1907, it saved almost the entire island population on 26 December 2004. Smong shows that risk knowledge endures when it is embedded in cultural practice rather than in projects.

Kekuatan smong terletak pada cara pewarisannya. Ingatan tentang tsunami 1907 tidak disimpan dalam dokumen atau papan informasi, melainkan dalam nyanyian yang didengar anak-anak sejak bayi. Selama 97 tahun pengetahuan itu bertahan tanpa sokongan program formal, dan ketika gempa besar mengguncang pada 2004, warga Simeulue bergerak ke dataran tinggi sebelum gelombang datang.

Kontrasnya tajam. Dari sekian banyak memori bencana di Aceh, hanya smong yang berkembang menjadi sistem pengetahuan lintas generasi. Istilah ie beuna di pesisir Aceh dan gloro di daerah lain menunjuk peristiwa serupa, tetapi tidak berkembang menjadi pedoman tindakan yang hidup. Pertanyaan mengapa satu bertahan dan yang lain tidak menjadi kunci untuk merancang strategi ketangguhan. Perbandingan lain datang dari pengalaman kelembagaan modern: forum pengurangan risiko bencana tingkat gampong yang dibentuk melalui proyek pada 2020 berhenti dalam dua tahun karena tidak ada sinkronisasi anggaran.

Secara teoretis, smong dipakai sebagai bukti empiris argumen pluralisme hukum dalam kebencanaan, yang bertumpu pada pemikiran hukum progresif Satjipto Rahardjo. Di samping hukum negara, masyarakat memiliki norma tidak tertulis yang dijalankan secara sosiologis, dan sebagian berfungsi sebagai instrumen mitigasi yang efektif. Hukum negara tidak perlu menggantikannya; yang dibutuhkan adalah pengaturan yang saling melengkapi dengan mitigasi sebagai titik temu.

Bagi bencana 2025, smong mengajukan pertanyaan yang tidak nyaman: Aceh belum memiliki padanan budaya untuk bahaya dari hulu. Pengetahuan warga bahwa hutan menahan air ada, tetapi belum terlembagakan dalam praktik yang diwariskan sebagaimana smong.

Smong's strength lies in how it is passed on. Memory of the 1907 tsunami was kept not in documents or signboards but in songs children hear from infancy. For 97 years the knowledge survived without formal programme support, and when the great earthquake struck in 2004, Simeulue's residents moved to high ground before the waves arrived.

The contrast is stark. Of the many disaster memories in Aceh, only smong grew into a knowledge system spanning generations. The terms ie beuna on the Acehnese coast and gloro elsewhere refer to similar events but did not become living guides to action. Why one endured and the others did not is a key question for designing resilience strategy. Modern institutional experience offers a further comparison: village disaster-risk-reduction forums set up through a project in 2020 stopped within two years for lack of budget alignment.

Theoretically, smong serves as empirical support for a legal-pluralist argument in disaster law, drawing on Satjipto Rahardjo's progressive legal thought. Alongside state law, communities hold unwritten norms that are sociologically observed, and some function as effective mitigation instruments. State law need not replace them; what is needed is complementary regulation with mitigation as the meeting point.

For the 2025 disaster, smong poses an uncomfortable question: Aceh has no cultural counterpart for hazards from the uplands. Residents' knowledge that forests hold back water exists, but it has not been institutionalised in transmitted practice as smong was.

Gagasan kunciKey ideas

Pengetahuan dalam nyanyianKnowledge in song

Nandong menjadikan peringatan tsunami bagian dari pengasuhan sehari-hari.Nandong made tsunami warning part of everyday childrearing.

Praktik, bukan proyekPractice, not project

Pengetahuan yang melekat pada budaya bertahan; forum berbasis proyek mudah berhenti.Knowledge embedded in culture endures; project-based forums easily lapse.

Mencari smong untuk huluSeeking a smong for the uplands

Aceh belum memiliki tradisi serupa untuk banjir bandang dan longsor.Aceh lacks a comparable tradition for flash floods and landslides.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Bentuk budaya apa yang dapat menjadi wahana pewarisan pengetahuan tentang banjir bandang di Aceh?What cultural form could carry knowledge about flash floods across generations in Aceh?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Smong: pengetahuan tsunami Simeulue”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/smong-simeulue/