Langsung ke isiSkip to content
Acehnologi Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Hikayat perang Aceh: dari Malem Dagang hingga Prang CumbokAcehnese war hikayat: from Malem Dagang to Prang Cumbok

Masa Kesultanan hingga 1946Sultanate era to 1946

Tradisi hikayat perang Aceh tidak berhenti pada Hikayat Prang Sabi. Hampir setiap episode perang melahirkan karya bersanjak dalam bahasa Aceh: Hikayat Malem Dagang tentang persiapan Iskandar Muda melawan Portugis, Hikayat Prang Goumpeni karya Dokarim, Hikayat Prang Cut Ali (1930), hingga Hikayat Prang Cumbok (1946). Korpus ini menunjukkan bahwa ‘penyair perang’ adalah fenomena berulang, bukan individu tunggal. Bersama-sama, karya-karya ini menjadi sumber untuk memahami spirit, ingatan, dan konflik dalam sejarah Aceh.

The Acehnese tradition of war hikayat does not end with the Hikayat Prang Sabi. Almost every episode of war produced rhymed works in Acehnese: the Hikayat Malem Dagang on Iskandar Muda's preparations against the Portuguese, the Hikayat Prang Goumpeni by Dokarim, the Hikayat Prang Cut Ali (1930) and the Hikayat Prang Cumbok (1946). The corpus shows that the ‘war poet’ is a recurring phenomenon rather than a single individual. Together these works are sources for understanding spirit, memory and conflict in Acehnese history.

Hikayat Malem Dagang mengisahkan bagaimana Sultan Iskandar Muda menyiapkan bala tentara untuk menghadapi Portugis, sehingga ia dekat dengan genre sastra perang meski berlatar kejayaan kesultanan. Pada masa perang melawan Belanda, selain Hikayat Prang Sabi, muncul Hikayat Prang Goumpeni karya Dokarim (Abdul Karim), syair yang disebut sangat ditakuti penjajah. Edwin Wieringa mengingatkan bahwa karya ini bukan laporan sejarah, melainkan hikayat, yaitu cerita bersanjak yang termasuk dalam ranah sastra tradisional Aceh. Hikayat Prang Cut Ali ditulis pada 1930 oleh Teungku Syekh Hasan dari Kuala Lambeusoe.

Revolusi sosial 1946, yang dikenal sebagai Perang Cumbok, juga melahirkan Hikayat Prang Cumbok. Penelitian M. Isa Sulaiman menunjukkan bahwa hikayat ini hadir dalam beberapa versi yang terbit berurutan pada 1946: versi Ismail Muhammad pada April, versi Syekh Min Jeureula pada Mei, dan versi Abdullah Arief pada Agustus, sementara T. Muhd. Daud Cumbok telah menyerah pada 16 Januari 1946. Sumber yang sama menyebut empat pengarang, tetapi hanya tiga versi yang dirinci. Berbeda dengan hikayat lain yang mengisahkan perlawanan terhadap penjajah, Hikayat Prang Cumbok merekam konflik sesama orang Aceh.

Korpus ini menunjukkan dua hal. Pertama, gelar ‘penyair perang’ yang disematkan A. Hasjmy kepada Teungku Chik Pante Kulu sebenarnya dapat diperluas ke banyak pengarang lain, sehingga penetapan ‘Bapak Sastra Aceh’ menjadi sulit. Kedua, ketika Aceh dilanda perang dan konflik internal, perhatian terhadap sastra Aceh ikut tenggelam, padahal karya-karya ini adalah arsip perasaan kolektif yang tidak tercatat dalam dokumen resmi.

M. Isa Sulaiman menemukan tiga versi Hikayat Prang Cumbok yang terbit berturut-turut pada April (Ismail Muhammad), Mei (Syekh Min Jeureula), dan Agustus 1946 (Abdullah Arief), setelah T. Muhd. Daud Cumbok menyerah pada 16 Januari 1946. Ali Hasjmy juga mencatat Hikayat Prang Peringgi melawan Portugis dan Hikayat Meudeuhak melawan Belanda, sementara Ibrahim Alfian mengkaji sastra penyemangat pasukan Belanda dan Marsose.

The Hikayat Malem Dagang tells how Sultan Iskandar Muda readied his forces against the Portuguese, placing it close to the war genre even though its setting is the sultanate's glory. During the war against the Dutch, alongside the Hikayat Prang Sabi, came the Hikayat Prang Goumpeni by Dokarim (Abdul Karim), verse said to have been greatly feared by the colonisers. Edwin Wieringa cautions that it is not a historical report but a hikayat, a story in verse belonging to traditional Acehnese literature. The Hikayat Prang Cut Ali was written in 1930 by Teungku Syekh Hasan of Kuala Lambeusoe.

The social revolution of 1946, known as the Cumbok War, also produced the Hikayat Prang Cumbok. M. Isa Sulaiman's research shows that it exists in several versions published in sequence in 1946: Ismail Muhammad's in April, Syekh Min Jeureula's in May and Abdullah Arief's in August, while T. Muhd. Daud Cumbok had surrendered on 16 January 1946. The same source speaks of four authors but details only three versions. Unlike the other hikayat recounting resistance to colonisers, the Hikayat Prang Cumbok records a conflict among Acehnese themselves.

The corpus shows two things. First, the title ‘war poet’ that A. Hasjmy gave Teungku Chik Pante Kulu could be extended to many other authors, making it hard to name a ‘father of Acehnese literature’. Second, whenever Aceh was engulfed by war and internal conflict, attention to its literature faded, even though these works are archives of collective feeling not recorded in official documents.

M. Isa Sulaiman identified three versions of Hikayat Prang Cumbok published in April (Ismail Muhammad), May (Syekh Min Jeureula) and August 1946 (Abdullah Arief), after T. Muhd. Daud Cumbok surrendered on 16 January 1946. Ali Hasjmy also lists Hikayat Prang Peringgi against the Portuguese and Hikayat Meudeuhak against the Dutch, while Ibrahim Alfian studied the literature that rallied Dutch troops and the Marechaussee.

Gagasan kunciKey ideas

Penyair perang sebagai tradisiThe war poet as tradition

Setiap generasi yang berperang melahirkan pengarang yang merekam dan menggerakkan semangatnya.Each generation at war produced authors who recorded and stirred its spirit.

Hikayat bukan laporanHikayat are not reports

Karya-karya ini memadukan fakta dan imajinasi, sehingga harus dibaca sebagai sastra sekaligus sumber sejarah.These works blend fact and imagination and must be read as literature and historical source at once.

Dari perlawanan ke konflik internalFrom resistance to internal conflict

Hikayat Prang Cumbok memperlihatkan bahwa sastra perang juga merekam luka di antara sesama orang Aceh.The Hikayat Prang Cumbok shows that war literature also recorded wounds among Acehnese themselves.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Mengapa sebuah konflik sesama orang Aceh tetap ditulis dalam bentuk hikayat, dan apa bedanya dengan hikayat yang merayakan perlawanan terhadap penjajah?Why was a conflict among Acehnese still written as hikayat, and how does it differ from hikayat celebrating resistance to colonisers?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Hikayat perang Aceh: dari Malem Dagang hingga Prang Cumbok”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/hikayat-perang-aceh/