Langsung ke isiSkip to content
Acehnologi Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Ragam sastra Aceh: haba, hadih maja, panton, hikayat, nalam, hikayat ruhe, dan hiemGenres of Acehnese literature: haba, hadih maja, panton, hikayat, nalam, hikayat ruhe and hiem

Sastra berbahasa Aceh terdiri atas beragam bentuk lisan dan tulis, dari cerita (haba), tuturan leluhur (hadih maja), pantun (panton), puisi naratif bersanjak (hikayat), syair bermetrum Arab (nalam), sindiran (hikayat ruhe), hingga teka-teki (hiem). Klasifikasinya telah disusun oleh J.J.C.H. van Waardenburg (1898), Snouck Hurgronje, Mohd. Harun, dan A. Hasjmy. Definisi Snouck menjadi rujukan awal, tetapi nadanya cenderung merendahkan. Karena itu, peta genre ini perlu dibaca secara kritis.

Acehnese-language literature comprises varied oral and written forms: stories (haba), ancestral sayings (hadih maja), quatrains (panton), rhymed narrative poems (hikayat), verse in Arabic metres (nalam), satire (hikayat ruhe) and riddles (hiem). Classifications have been produced by J.J.C.H. van Waardenburg (1898), Snouck Hurgronje, Mohd. Harun and A. Hasjmy. Snouck's definitions served as an early reference but tend to be dismissive in tone. The genre map therefore needs critical reading.

Menurut rumusan Snouck, haba adalah cerita yang dipakai orang tua untuk mengisahkan masa lampau dan, secara umum, kabar tentang suatu peristiwa. Hadih maja adalah tradisi leluhur, terutama yang dipelihara kaum perempuan lanjut usia, yang bertautan dengan kebiasaan dan kepercayaan populer. Panton menyerupai pantun Melayu, biasanya bertema cinta, dengan bagian pertama sebagai pembayang irama. Hikayat adalah segala karya bersanjak selain panton dan nasib atau kisah. Nalam disusun dengan meniru metrum Arab, sedangkan hikayat ruhe, yang berada di antara haba dan hikayat, mengungkap rahasia, kebodohan, atau keburukan seseorang untuk ditertawakan. Hiem adalah teka-teki.

Hikayat mendapat perhatian khusus. Edwin Wieringa mencatat bahwa hikayat Aceh lazim ditulis dalam metrum sanja’ dengan aturan ketat dan dibuka dengan keuteubah, pembukaan berisi puji-pujian kepada Allah dan Rasul sebelum masuk ke pokok cerita. Ibrahim Alfian menegaskan bahwa bagi orang Aceh hikayat bukan sekadar fiksi, tetapi juga wadah pengajaran moral dan kitab pelajaran sederhana yang ditulis bersanjak, sehingga menjadi hiburan yang mendidik.

Pembacaan kritis diperlukan karena Snouck cenderung menilai ragam ini secara negatif. Ia menyebut pembukaan hikayat sekadar pengantar tanpa arti, menganggap nalam hanya meniru metrum Arab yang tidak cocok dengan bahasa Aceh, menyamakan hadih maja dengan dongeng Sunda dan Jawa, dan hanya memberi dua baris untuk hiem tanpa menunjukkan kesamaannya dengan teka-teki Melayu, Jawa, dan Sunda. Karena itu karyanya lebih tepat diperlakukan sebagai penyaji data yang bisa memperjelas sekaligus mengaburkan historisitas sastra Aceh.

Pembacaan Snouck dinilai merendahkan: pembuka hikayat ‘ajayeb subhanallah’ disebutnya pengantar tanpa arti, nalam dianggap tiruan metrum Arab yang tidak cocok bagi bahasa Aceh, dan hiem hanya diberi dua baris tanpa penjelasan tentang kesamaannya dengan teka-teki Melayu, Jawa, dan Sunda. Karena itu Snouck dibaca sebagai penyaji data yang bisa memperjelas sekaligus mengaburkan historisitas sastra Aceh.

In Snouck's formulation, haba are stories used by elders to recount the past and, more generally, news of any event. Hadih maja are ancestral traditions, especially those kept by elderly women, intertwined with popular customs and beliefs. Panton resemble Malay pantun, usually on love, with a first couplet that sets the rhythm. Hikayat are all rhymed compositions other than panton and nasib or kisah. Nalam imitate Arabic metres, while hikayat ruhe, standing between haba and hikayat, expose someone's secrets, folly or faults to ridicule. Hiem are riddles.

Hikayat receive particular attention. Edwin Wieringa notes that Acehnese hikayat are typically written in the sanja’ metre under strict conventions and open with a keuteubah, an introduction praising God and the Prophet before reaching the subject. Ibrahim Alfian stresses that for Acehnese a hikayat is not mere fiction but also a vehicle for moral instruction and simple textbooks written in verse, making it entertainment that educates.

Critical reading is needed because Snouck tended to judge these genres negatively. He called the hikayat opening a meaningless preamble, considered nalam a poor imitation of Arabic metres ill-suited to Acehnese, likened hadih maja to Sundanese and Javanese folk tales, and gave hiem only two lines without showing how they resemble Malay, Javanese and Sundanese riddles. His work is therefore better treated as a presentation of data that can both clarify and obscure the historicity of Acehnese literature.

Snouck's reading is judged disparaging: he called the hikayat opening ‘ajayeb subhanallah’ a meaningless preamble, treated nalam as an imitation of Arabic metre unsuited to Acehnese, and gave hiem only two lines without explaining its supposed similarity to Malay, Javanese and Sundanese riddles. Snouck is therefore read as a presenter of data who may both clarify and obscure the historicity of Acehnese literature.

Gagasan kunciKey ideas

Peta genre sebagai alat ajarGenre map as teaching tool

Klasifikasi ragam sastra memberi pintu masuk sistematis ke dalam khazanah lisan dan tulis Aceh.A classification of genres offers a systematic entry into Aceh's oral and written heritage.

Hikayat sebagai kitab ajarHikayat as textbook

Bentuk bersanjak dipakai bukan hanya untuk cerita, tetapi juga untuk pengajaran moral dan agama.Rhymed form served not only for stories but also for moral and religious instruction.

Membaca Snouck dengan curigaReading Snouck with suspicion

Definisi kolonial berguna sebagai data, tetapi penilaiannya terhadap mutu sastra Aceh perlu diuji.Colonial definitions are useful as data, but their judgements of Acehnese literary quality must be tested.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Jika keuteubah dianggap ‘tanpa arti’ oleh Snouck, makna apa yang mungkin ia lewatkan tentang cara orang Aceh memulai pengetahuan?If Snouck found the keuteubah ‘meaningless’, what might he have missed about how Acehnese begin acts of knowledge?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Ragam sastra Aceh: haba, hadih maja, panton, hikayat, nalam, hikayat ruhe, dan hiem”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/ragam-sastra-aceh/