Langsung ke isiSkip to content
Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Kosmopolis religiusThe religious cosmopolis

Aceh pasca-tsunami dan era globalisasiPost-tsunami Aceh in the age of globalisation

Kosmopolis religius adalah gagasan tentang masyarakat yang menjadi warga dunia sambil tetap berpegang pada tradisi dan agamanya. Kosmopolitanisme dibaca melalui tiga unsur: penghargaan pada individu, universalitas kemanusiaan, dan generalitas kepedulian lintas batas. Kehadiran masyarakat internasional setelah tsunami dipandang sebagai momentum belajar menjadi warga dunia. Gagasan ini dirangkum dalam lima skenario, dari glokalisasi hingga seruan tafsir agama, budaya luar, dan kosmopolitanisme sekaligus.

The religious cosmopolis is the idea of a society that becomes a citizen of the world while holding fast to its traditions and faith. Cosmopolitanism is read through three elements: regard for the individual, the universality of humanity, and a generalised concern that crosses boundaries. The arrival of the international community after the tsunami is seen as a moment to learn global citizenship. The idea is laid out in five scenarios, ranging from glocalisation to an embrace of religious reinterpretation, outside culture and cosmopolitanism together.

Kosmopolitanisme didefinisikan secara sederhana, mengikuti Wimar Witoelar, sebagai rasa nyaman berada di mana pun di dunia, yang dapat dimiliki diplomat, pelaut, pekerja migran, atau pemain bola. Gejala ini lahir dari globalisasi yang digambarkan sebagai revolusi jari telunjuk: sepanjang hari manusia modern menekan tombol, dari alarm hingga ATM dan papan ketik. Di Aceh, gejala ini tampak antara lain pada anak muda yang berjejaring melalui ruang obrolan daring tanpa sekat agama, ras, atau negara.

Tiga unsurnya diuji terhadap realitas Aceh. Penghargaan pada individu berbenturan dengan budaya koneksi, asal kampung, dan kroni dalam rekrutmen. Universalitas berbenturan dengan rasa superioritas, termasuk stereotip antarsesama orang Aceh. Generalitas justru pernah dialami ketika bantuan dari seluruh dunia diterima dengan lapang dada setelah tsunami. Ketiganya dinilai sejalan dengan Islam, yang memandang manusia setara kecuali dalam takwa dan memerintahkan saling mengenal.

Lima skenario diajukan: kembali pada tradisi lokal dengan perspektif global atau glokalisasi, sebagaimana dicontohkan Jepang dan Korea Selatan; membangun paradigma baru yang konstruktif; membumikan religi melalui kesalehan sosial; menjadi kosmopolis religius dengan memanfaatkan kehadiran masyarakat internasional; dan menggabungkan tafsir agama, keterbukaan pada budaya luar, serta kosmopolitanisme dalam satu langgam. Contoh Richard Gere yang belajar kepada Dalai Lama dipakai untuk menunjukkan bahwa kaum kosmopolit kerap mencari ikatan spiritual, sehingga keunikan budaya dan agama Aceh justru menjadi daya tarik.

Persoalan kepatuhan juga diangkat: kepada negara, agama, atau norma seorang warga dunia harus tunduk. Jawabannya, kaum kosmopolit justru cenderung memelihara spiritualitas, seperti tampak pada gerakan new age dan spiritual intelligence di Barat yang berujung pada sikap asketis, sejajar dengan zuhud dalam Islam. Protes jutaan orang di seluruh dunia terhadap serangan Amerika Serikat ke Irak dijadikan contoh solidaritas kemanusiaan lintas agama dan bangsa.

Cosmopolitanism is defined simply, following Wimar Witoelar, as feeling at home anywhere in the world, a disposition open to diplomats, sailors, migrant workers or footballers alike. It arises from globalisation, pictured as an index-finger revolution in which modern people spend the day pressing buttons, from the alarm clock to the ATM and the keyboard. In Aceh it is visible among young people who network through online chat rooms across lines of religion, race and nationality.

Its three elements are tested against Acehnese reality. Regard for the individual clashes with a recruitment culture of connections, home-village loyalties and cronyism. Universality clashes with feelings of superiority, including stereotypes among Acehnese themselves. Generalised concern, by contrast, was experienced after the tsunami, when aid from around the world was gratefully accepted. All three are judged consistent with Islam, which treats humans as equal except in piety and commands people to know one another.

Five scenarios are proposed: returning to local tradition with a global outlook, or glocalisation, as exemplified by Japan and South Korea; building a new, constructive paradigm; grounding religion through social piety; becoming a religious cosmopolis by learning from the international presence; and combining religious reinterpretation, openness to outside culture and cosmopolitanism in a single register. The example of Richard Gere studying with the Dalai Lama illustrates that cosmopolitans often seek spiritual anchors, so that Aceh's cultural and religious distinctiveness becomes an attraction rather than a barrier.

The question of allegiance is also raised: to state, religion or norms should a world citizen defer? The answer offered is that cosmopolitans tend to cultivate spirituality, as with the Western new age and spiritual-intelligence movements leading to an ascetic stance, paralleling zuhd in Islam. Worldwide protests by millions against the US attack on Iraq serve as an example of human solidarity across religion and nation.

Gagasan kunciKey ideas

Tiga unsur kosmopolitanismeThree elements of cosmopolitanism

Penghargaan pada individu, universalitas kemanusiaan, dan generalitas kepedulian menjadi tolok ukur keterbukaan masyarakat.Regard for the individual, the universality of humanity and generalised concern become the yardsticks of social openness.

GlokalisasiGlocalisation

Menikmati buah teknologi global sambil menjaga nilai lokal, dengan masyarakat sendiri sebagai aktor utamanya.Enjoying the fruits of global technology while safeguarding local values, with the community itself as the main actor.

Kosmopolitanisme yang berakarRooted cosmopolitanism

Menjadi warga dunia tidak berarti melepaskan agama; justru ikatan spiritual dapat menjadi dasar keterbukaan.Becoming a world citizen need not mean abandoning religion; spiritual ties can ground openness.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Di manakah batas antara keterbukaan pada dunia dan kehilangan jati diri bagi masyarakat yang religius?Where does openness to the world end and loss of identity begin for a religious society?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Kosmopolis religius”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/kosmopolis-religius/