Fiqh MalaysiaFiqh Malaysia (Malaysian fiqh)
Dikembangkan sejak 1990-an; istilah mengemuka pada 2000-anDeveloped from the 1990s; the term gained currency in the 2000s
Fiqh Malaysia adalah gagasan hukum Islam kontekstual yang dikembangkan sekelompok cendekiawan progresif, terutama dari Akademi Pengajian Islam, Universiti Malaya, sejak 1990-an. Istilah ini mengemuka melalui buku Fiqh Malaysia: Ke Arah Pembinaan Fiqh Tempatan Yang Terkini pada 2000-an. Tiga kata kuncinya adalah semasa, tempatan, dan sejarah. Gagasan ini menekankan kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah melalui pembaruan usul fikih, bukan melalui dialog dengan pemikiran Barat.
Fiqh Malaysia is a contextual approach to Islamic law developed from the 1990s by a group of progressive scholars, chiefly at the Academy of Islamic Studies, Universiti Malaya. The term gained prominence through the 2000s book Fiqh Malaysia: Ke Arah Pembinaan Fiqh Tempatan Yang Terkini. Its three keywords are semasa (contemporary), tempatan (local) and sejarah (history). It stresses a return to the Qur’an and Sunna through renewed legal theory (usul al-fiqh) rather than through engagement with Western thought.
Aspek semasa tampak dalam pandangan Mahmood Zuhdi, yang menegaskan bahwa hukum Islam masa kini di Malaysia harus ditentukan dengan kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah serta memakai sepenuhnya kaidah usul fikih warisan ulama terdahulu. Dengan demikian, Fiqh Malaysia bernafas modernis, tetapi berbeda dari modernisme yang cenderung mempertemukan wacana Islam dengan pemikiran Barat: tafsir yang ditawarkan bertumpu pada konteks semasa dan setempat melalui usul fikih. Osman Bakar juga menilai pembaruan usul fikih, atau falsafah syariat, sebagai sumbangan penting bagi masyarakat maju menurut acuan Malaysia.
Aspek tempatan berkaitan dengan budaya. Malaysia adalah negara multietnis dengan budaya hibrida, tetapi Islam merupakan agama resmi dan bagian dari identitas Melayu, sehingga hukum Islam berlaku di kalangan Melayu. Aspek ini bertaut dengan aspek sejarah: menurut Rahimin, akar Fiqh Malaysia terdapat pada kodifikasi hukum dalam bentuk hukum kanun, seperti Hukum Kanun Melaka, serta penulisan kitab fikih berhuruf Jawi pada abad ke-18 hingga ke-20 yang lebih bertumpu pada pandangan dunia Islam daripada sistem adat.
Shukeri Mohamad merumuskan empat asas: al-Qur’an dan Sunnah sebagai rujukan tertinggi falsafah negara dan administrasi; ijtihad terpimpin dengan metodologi yang kokoh dan muktabar; kewibawaan fuqaha dan ahli ijtihad; serta kewibawaan pemimpin, politisi, dan ahli tadbir. Asas pertama ia sebut sebagai fondasi akidah Fiqh Malaysia, yang menandai kecenderungan meninggalkan taklid pada mazhab tertentu.
The ‘semasa’ dimension appears in Mahmood Zuhdi's view that contemporary Islamic law in Malaysia must be determined by returning to the Qur’an and Sunna and fully employing the principles of usul al-fiqh laid down by earlier scholars. Fiqh Malaysia is thus modernist in spirit, yet it differs from a modernism that seeks to reconcile Islamic discourse with Western thought: its interpretations rest on contemporary and local context mediated by legal theory. Osman Bakar likewise regards the renewal of usul al-fiqh, or the philosophy of sharia, as a major contribution to a developed society on the Malaysian model.
The ‘tempatan’ dimension concerns culture. Malaysia is a multi-ethnic state with a hybrid culture, but Islam is the official religion and part of Malay identity, so Islamic law applies among Malays. This connects with the historical dimension: according to Rahimin, Fiqh Malaysia's roots lie in legal codification in the form of hukum kanun, such as the Malacca Laws (Hukum Kanun Melaka), and in Jawi-script fiqh works of the eighteenth to twentieth centuries grounded more in an Islamic worldview than in customary systems.
Shukeri Mohamad set out four foundations: the Qur’an and Sunna as the supreme reference for state philosophy and administration; guided ijtihad based on sound and authoritative methodology; the authority of jurists and qualified mujtahids; and the authority of leaders, politicians and administrators. He described the first as the creedal foundation of Fiqh Malaysia, signalling a tendency to move away from strict adherence (taqlid) to any single school.
Gagasan kunciKey ideas
Semasa, tempatan, sejarahContemporary, local, historical
Tiga kata kunci yang menjadi poros Fiqh Malaysia.The three keywords at the heart of Fiqh Malaysia.
Pembaruan lewat usul fikihRenewal through legal theory
Fiqh Malaysia memperbarui hukum melalui metodologi klasik, bukan melalui sintesis dengan Barat.Fiqh Malaysia renews law through classical methodology rather than synthesis with the West.
Akar Melayu-JawiMalay-Jawi roots
Hukum Kanun Melaka dan kitab fikih Jawi menjadi akar historisnya.The Malacca Laws and Jawi fiqh texts form its historical roots.
Posisi dalam kerangkaPlace in the framework
Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.
Pertanyaan reflektifReflective question
Apakah pembaruan hukum Islam lebih kokoh bila bertumpu pada metodologi klasik ketimbang pada dialog dengan teori hukum modern?Is Islamic legal reform sturdier when grounded in classical methodology rather than dialogue with modern legal theory?
Kutip entri ini:Cite this entry: “Fiqh Malaysia”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/fiqh-malaysia/