Langsung ke isiSkip to content
Acehnologi Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Ejaan bahasa Aceh berdiakritik dan kamus Balai BahasaDiacritic spelling of Acehnese and the Language Office dictionaries

1880-an–20231880s–2023

Penulisan bahasa Aceh memakai tanda diakritik (é, è, ô, ö) dan apostrof untuk bunyi sengau, sebuah sistem yang berakar pada ejaan Snouck Hurgronje dan Hoesein Djajadiningrat. Perdebatan antara ketepatan dan kepraktisan muncul sejak seminar 1980 dan 1990, dan Balai Bahasa Provinsi Aceh pada 2023 memvalidasi 772 kata untuk kamus berdiakritik.

Written Acehnese uses diacritics (é, è, ô, ö) and an apostrophe for nasal sounds, a system rooted in the spelling of Snouck Hurgronje and Hoesein Djajadiningrat. A debate between precision and practicality has run since seminars in 1980 and 1990, and in 2023 the Aceh Provincial Language Office validated 772 words for a dictionary with diacritics.

Tanda aigu (é) dipakai untuk e seperti pada maté (mati) dan padé (padi); grave (è) untuk e seperti pada kata bebek, misalnya kayèe dan bèk; makron (ô) untuk o seperti pada bôh dan crôh; trema (ö) untuk bunyi khas Aceh seperti böh (buang); dan apostrof untuk bunyi sengau seperti h’iem (teka-teki). Kesalahan tanda dapat mengubah makna, misalnya kréh (keris) dan krèh, sehingga para linguis menganjurkan ketelitian.

Sistem ini pertama kali dipakai Snouck Hurgronje, lalu diteruskan Hoesein Djajadiningrat, yang tinggal di Aceh pada 1914–1915 dan, dengan bantuan Teuku Mohammad Nurdin dan Aboe Bakar Atjeh, menerbitkan kamus Aceh–Belanda pada 1934. Seminar Bahasa Aceh di Universitas Syiah Kuala pada 2 September 1980 mempertahankan diakritik, tetapi seminar di IAIN Ar-Raniry sepuluh tahun kemudian menyimpulkan bahwa diakritik tidak wajib demi kepraktisan.

Linguis Abdul Gani Asyik, yang pada 1972 menulis tesis Atjehnese Morphology, Pase Dialect, membagi bahasa Aceh ke dalam empat dialek (Aceh Utara/Pase, Pidie, Aceh Besar, Aceh Barat), berbeda dari tiga dialek versi Snouck, dan menekankan pentingnya diftong. Dalam Lokakarya Kosakata Bahasa Aceh 1–3 Agustus 2023, Balai Bahasa Provinsi Aceh bersama narasumber Abdul Gani Asyik, Muhammad Iqbal, dan Zulfadli Abdul Aziz memvalidasi 772 dari lebih seribu kata untuk kamus berdiakritik versi cetak dan daring. Balai itu sebelumnya menerbitkan Kamus Maritim Aceh-Indonesia (2021) dan Kamus Budaya Aceh-Indonesia (2022). Dalam lokakarya itu juga dikemukakan pandangan bahwa bahasa Aceh berkerabat dekat dengan bahasa Cham di Vietnam.

The aigu (é) marks the e of maté (dead) and padé (rice); the grave (è) the open e of kayèe and bèk; the macron (ô) the o of bôh and crôh; the trema (ö) a sound peculiar to Acehnese, as in böh (throw away); and the apostrophe nasal sounds, as in h’iem (riddle). A wrong mark can change meaning, as between kréh (kris) and krèh, so linguists urge care.

The system was first used by Snouck Hurgronje and carried on by Hoesein Djajadiningrat, who lived in Aceh in 1914–1915 and, helped by Teuku Mohammad Nurdin and Aboe Bakar Atjeh, published an Acehnese–Dutch dictionary in 1934. An Acehnese language seminar at Universitas Syiah Kuala on 2 September 1980 kept the diacritics, but a seminar at IAIN Ar-Raniry ten years later concluded they were not obligatory, for practicality.

The linguist Abdul Gani Asyik, who wrote the 1972 thesis Atjehnese Morphology, Pase Dialect, divides Acehnese into four dialects (North Aceh/Pase, Pidie, Aceh Besar, West Aceh), unlike Snouck’s three, and stresses the importance of diphthongs. At the Acehnese Vocabulary Workshop of 1–3 August 2023, the Aceh Provincial Language Office with Abdul Gani Asyik, Muhammad Iqbal and Zulfadli Abdul Aziz validated 772 of more than a thousand words for a printed and online dictionary with diacritics. The office had earlier published an Acehnese–Indonesian Maritime Dictionary (2021) and Cultural Dictionary (2022). The workshop also aired the view that Acehnese is closely related to Cham in Vietnam.

Gagasan kunciKey ideas

Ketepatan atau kepraktisanPrecision or practicality

Perdebatan sejak 1980 dan 1990.A debate since 1980 and 1990.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Apakah ejaan yang tepat secara bunyi lebih penting daripada ejaan yang mudah dipakai generasi muda?Is a phonetically exact spelling more important than one the young generation finds easy to use?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Ejaan bahasa Aceh berdiakritik dan kamus Balai Bahasa”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/ejaan-dan-kamus-bahasa-aceh-berdiakritik/