Langsung ke isiSkip to content
Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Panglima La’ôt Aceh (PLA)Panglima Laot Aceh (PLA)

Musyawarah 2000; dibentuk 2001; bernama PLA sejak 2008Deliberations 2000; founded 2001; named PLA from 2008

Panglima La’ôt Aceh adalah organisasi adat tingkat provinsi yang menghimpun Panglima La’ôt Lhok dan Kabupaten. Kebangkitannya berawal dari kasus penahanan kapal-kapal Thailand, ketika hasil lelangnya diperjuangkan untuk nelayan Aceh dan sebagian dijadikan dana abadi beasiswa anak nelayan melalui YPMAN. Setelah tsunami 2004, organisasi ini menjadi mitra utama donor internasional dan membangun jejaring hingga forum nelayan dunia. Keberhasilannya dibayangi persoalan kaderisasi, ketimpangan di tingkat lokal, dan ketidakjelasan payung kelembagaan.

Panglima Laot Aceh is the provincial customary organisation that brings together the subdistrict (lhok) and district Panglima Laot. Its revival began with the seizure of Thai fishing boats, when proceeds from their auction were secured for Acehnese fishers and partly set aside as an endowment for scholarships for fishers' children through the YPMAN foundation. After the 2004 tsunami it became a key partner of international donors and built networks reaching global fishworker forums. Its success is shadowed by problems of leadership succession, inequities at the local level and an unclear institutional umbrella.

Musyawarah Panglima La’ôt pada 6–7 Juni 2000 merancang struktur tiga tingkat: Panglima La’ôt Lhok di tingkat kecamatan, Kabupaten, dan Provinsi, masing-masing dengan penasihat, ketua, wakil, sekretaris, dan bendahara. Setelah pemerintah menahan kapal-kapal Thailand, tokoh adat dan akademisi melobi Jakarta agar hasil lelangnya diserahkan kepada rakyat Aceh; sekitar Rp14 miliar berhasil diperoleh. Dalam duek pakat di Sabang, para Panglima La’ôt Lhok sepakat menyisihkan Rp3,5 miliar sebagai dana abadi beasiswa. Tugas utama organisasi dirumuskan sebagai koordinasi pelaksanaan Adat La’ôt dan fasilitasi kebutuhan nelayan, ditambah dewan meusapat dan dewan ahli.

Melalui YPMAN (Yayasan Pangkai Meurunoe Aneuk Nelayan), beasiswa disalurkan kepada 350 anak nelayan pada 2002, 530 pada 2003, 700 pada 2004, 1.225 setahun setelah tsunami, dan 2.535 pada 2008. Pasca-tsunami, program Panglima La’ôt Berduka bersama UNDP mempekerjakan pengungsi membersihkan fasilitas publik di Banda Aceh dengan upah harian, dan menjadikan lembaga ini dikenal dunia. PLA menjadi anggota WFFP pada 2008, sementara sekretarisnya, M. Adli Abdullah, bergabung dengan ICSF pada 2007 dan menerima penghargaan CHF pada 2006.

Strateginya mencakup lima bidang: pengakuan resmi, advokasi hak nelayan termasuk yang ditangkap di Thailand, Malaysia, Myanmar, dan India serta penolakan pukat trawl, pemberdayaan budidaya, mediasi dengan aparatur negara, dan internasionalisasi. PLA dinilai dapat menjadi model lembaga adat modern, sebanding dengan sasi di Maluku. Namun di tingkat lokal muncul keluhan tentang Panglima La’ôt Kabupaten yang ditunjuk dinas kelautan, distribusi bantuan dan beasiswa yang tidak merata, serta kekhawatiran tentang masa depan menjelang rencana berakhirnya program FAO pada Juni 2010.

Lembaga tingkat provinsi semula bernama Panglima La’ôt Provinsi (PLP, 2001) dan berganti nama menjadi PLA pada 2008. Sejak 2002 YPMAN mencatat 9.884 beasiswa dari SD hingga perguruan tinggi, dengan rencana 2.574 penerima pada 2009; setelah tsunami organisasi ini membeli ruko yang sebelumnya disewa sebagai kantor pusat, dan menanjaknya pamor PLA dibarengi meredupnya organisasi nelayan lain seperti HNSI. Sebelum tsunami PLA juga menjalankan program dana bergulir bersama UN-OCHA, dan skema padat karya pascatsunami kemudian direplikasi USAID di Aceh Barat dan Aceh Jaya.

A meeting of Panglima Laot on 6–7 June 2000 designed a three-tier structure, at subdistrict (lhok), district and provincial levels, each with advisers, a chair, deputies, a secretary and a treasurer. After the government impounded Thai fishing boats, adat leaders and academics lobbied Jakarta to hand the auction proceeds to the people of Aceh; some Rp14 billion was secured. At a duek pakat in Sabang, the lhok-level Panglima Laot agreed to set aside Rp3.5 billion as a scholarship endowment. The organisation's main task was defined as coordinating the implementation of the Adat Laot and facilitating fishers' needs, supported by a council of assembly (dewan meusapat) and an expert council.

Through YPMAN (Yayasan Pangkai Meurunoe Aneuk Nelayan), scholarships reached 350 fishers' children in 2002, 530 in 2003, 700 in 2004, 1,225 a year after the tsunami and 2,535 in 2008. After the tsunami, the ‘Panglima Laot Berduka’ programme with UNDP employed displaced people to clean public facilities in Banda Aceh for a daily wage, making the institution known worldwide. PLA joined the World Forum of Fisher Peoples in 2008, while its secretary, M. Adli Abdullah, joined ICSF in 2007 and received a CHF award in 2006.

Its strategy spans five areas: official recognition; advocacy for fishers' rights, including those detained in Thailand, Malaysia, Myanmar and India, and opposition to trawling; capacity-building in aquaculture; mediation with state agencies; and internationalisation. PLA is seen as a potential model for a modern customary institution, comparable to sasi in Maluku. Locally, however, there are complaints about district Panglima Laot appointed by the fisheries agency, uneven distribution of aid and scholarships, and anxiety about the future as the FAO programme approached its scheduled end in June 2010.

The provincial body was first called Panglima Laot Provinsi (PLP, 2001) and renamed PLA in 2008. Since 2002 YPMAN had recorded 9,884 scholarships from primary to tertiary level, with 2,574 recipients planned for 2009; after the tsunami the organisation bought the shophouse it had rented as headquarters, and its rising profile coincided with the eclipse of other fishers' bodies such as HNSI. Before the tsunami PLA also ran a revolving-fund programme with UN-OCHA, and its post-tsunami cash-for-work scheme was later replicated by USAID in West Aceh and Aceh Jaya.

Gagasan kunciKey ideas

Adat yang beradaptasiAdaptive adat

PLA memadukan legitimasi tradisional dengan cara kerja organisasi modern, jejaring donor, dan media.PLA combines traditional legitimacy with the methods of a modern organisation, donor networks and the media.

Strategi senyapA silent strategy

Lobi kecil kepada berbagai pihak, dari GAM hingga militer dan badan PBB, memberi PLA daya tawar tanpa terlibat politik terbuka.Quiet lobbying of many parties, from GAM to the military and UN agencies, gave PLA bargaining power without overt politics.

Rapuh di akarFragile at the roots

Keberhasilan provinsi tidak selalu tercermin di tingkat lhok dan kabupaten, tempat adat sesungguhnya hidup.Provincial success is not always mirrored at lhok and district levels, where adat actually lives.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Dapatkah lembaga adat yang tumbuh besar karena dana donor tetap mandiri setelah donor pergi?Can a customary institution that grew on donor funding remain autonomous once the donors leave?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Panglima La’ôt Aceh (PLA)”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/panglima-laot-aceh/