Langsung ke isiSkip to content
Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Panglima La’ôtPanglima Laot

Abad ke-14 hingga kini; diaktifkan kembali sejak 1999–200114th century to the present; revived from 1999–2001

Panglima La’ôt adalah lembaga adat yang kini dikenal sebagai pemimpin masyarakat nelayan dan penjaga Adat La’ôt. Bukti sejarah menunjukkan bahwa pada masa kesultanan lembaga ini merupakan aparatur resmi kerajaan yang bekerja di pelabuhan di bawah syahbandar, uleebalang, dan Sultan, dengan tugas pengawasan pantai, penarikan pendapatan, dan keamanan laut. Setelah kolonialisme dan kemerdekaan, fungsinya menyempit menjadi warisan budaya yang mengurus sengketa nelayan dan ritual. Tesis utamanya: Panglima La’ôt semula bagian dari pemerintahan, bukan sekadar produk budaya.

Panglima Laot is a customary institution now known as the leader of fishing communities and guardian of the Adat Laot, the customary law of the sea. Historical evidence indicates that under the sultanate it was an official royal office operating in the ports under the syahbandar, the uleebalang and the Sultan, charged with coastal surveillance, revenue collection and maritime security. After colonialism and independence its role narrowed into a cultural heritage institution handling fishers' disputes and rituals. The core thesis is that the Panglima Laot was originally part of government, not merely a cultural product.

Banyak orang meyakini lembaga ini telah berusia sekitar empat ratus tahun, tetapi asal-usulnya jarang dikaji serius. Sumber kolonial yang dihimpun Van Vollenhoven menyebut panglima la’ôt di pasar-pasar pantai timur sebagai pejabat yang mengurus ekspor dan impor, sejajar dengan syahbandar di pelabuhan, kepala krueng di muara, dan haria pemungut retribusi. Lee Kam Hing mencatat bahwa pada dinasti terakhir Sultan Mahmud Syah mengangkat seorang Panglima La’ôt untuk mengawasi pantai dan menarik pendapatan dari permukiman pesisir. Dari sini tampak bahwa tugas pokoknya adalah mengawasi aktivitas pelabuhan, bukan semata mengatur nelayan.

Jejak yang lebih tua terlihat dalam gelar amir al-bahri atau naib sahib al-bahr. Ibnu Battutah, ketika berlabuh di Pasai pada 1345, disambut wakil syahbandar dengan sebutan tersebut, yang menjalankan fungsi menyerupai petugas imigrasi. Pada 1883, ketika Tuanku Muhammad Syah menjadi Sultan, Teuku Umar diangkat sebagai amir al-bahri atau Panglima La’ôt di Aceh Barat, sementara Teungku Chik di Tiro menjadi qadhi malikul adil. Tradisi juga mengisahkan Syekh Abdurrauf as-Singkili tiba di Kuala Aceh sebagai pawang pukat dan meminta izin Panglima La’ôt sebelum mendekati istana.

Setelah uleebalang lenyap dan Indonesia merdeka, Panglima La’ôt kehilangan mitra kelembagaannya dan berubah menjadi nakhoda simbolik komunitas nelayan. Kini ia dipilih dari kalangan pawang dan berperan menengahi sengketa, memimpin Khanduri La’ôt, dan menjaga hari pantang melaut. Kesimpulannya, lembaga ini perlu dipahami kembali sebagai bagian dari tata pemerintahan agar tidak benar-benar menjadi sekadar warisan budaya.

Lembaga ini dipakai sebagai contoh kekeliruan teleologi fungsional: peneliti perlu membedakan apakah Panglima La’ôt (dan Panglima Uteun untuk hutan) diakui karena pengaruhnya atau karena fungsinya sebagai pengembang hukum adat laut.

Muhammad Sa’id mencatat bahwa Adat La’ôt dahulu dikendalikan Panglima La’ôt bersama uleebalang atau Keudjreun Kuala sebagai aparat pemerintah; mitra lainnya adalah Panglima Krueng dan syahbandar. Menurut sejarahnya, pawang dan Panglima La’ôt bahkan dapat berperan seperti teungku di wilayahnya, sehingga lemahnya peran keagamaan Panglima La’ôt masa kini dipandang sebagai penyimpangan dari fungsi aslinya.

Many believe the institution is around four hundred years old, yet its origins have rarely been studied seriously. Colonial sources compiled by Van Vollenhoven list the panglima la’ôt in east-coast market towns as officials dealing with exports and imports, alongside the syahbandar in the ports, the kepala krueng at river mouths and the haria who collected market dues. Lee Kam Hing records that in the last dynasty Sultan Mahmud Syah appointed a Panglima Laot to keep the coast under surveillance and collect revenue from outlying settlements. Its principal task, then, was to monitor port activity rather than simply to regulate fishers.

Older traces appear in the titles amir al-bahri and naib sahib al-bahr. When Ibn Battuta anchored at Pasai in 1345, he was received by the harbourmaster's deputy bearing such a title, who performed something like an immigration function. In 1883, when Tuanku Muhammad Syah became Sultan, Teuku Umar was appointed amir al-bahri, or Panglima Laot, for West Aceh, while Teungku Chik di Tiro became chief judge. Tradition also relates that Shaykh Abdurrauf al-Singkili arrived at Kuala Aceh as a pawang pukat and sought the Panglima Laot's leave before approaching the palace.

Once the uleebalang disappeared and Indonesia became independent, the Panglima Laot lost its institutional partners and became a symbolic captain of fishing communities. Today it is chosen from among the pawang and mediates disputes, leads the Khanduri Laot and enforces days when going to sea is forbidden. The conclusion is that the institution should be re-understood as part of governance, lest it truly become nothing more than cultural heritage.

The institution is used as an example of the fallacy of functional teleology: researchers must distinguish whether the Panglima Laot (and the Panglima Uteun for forests) is recognised for its influence or for its function in developing customary sea law.

Muhammad Sa’id records that Adat Laot was once administered by the Panglima Laot together with the uleebalang or the Keudjreun Kuala as government officials; other partners were the Panglima Krueng and the syahbandar. Historically, pawang and Panglima Laot could even act as local teungku, so the weak religious role of today's Panglima Laot is seen as a departure from the office's original function.

Gagasan kunciKey ideas

Dari aparatur ke warisan budayaFrom state office to cultural heritage

Lembaga yang dulu bagian dari birokrasi pelabuhan kesultanan kini dipahami sebagai pusaka adat komunitas nelayan.An office once embedded in the sultanate's port bureaucracy is now understood as a fishing community's customary heirloom.

Fungsi keagamaan yang tersiratAn implicit religious role

Gelar amir al-bahri mengisyaratkan bahwa jabatan ini dahulu juga memikul tanggung jawab keagamaan.The title amir al-bahri suggests the office once carried religious responsibilities as well.

Tiga tingkat kepemimpinanThree tiers of leadership

Struktur modern terdiri atas Panglima La’ôt Lhok, Kabupaten, dan Provinsi, dengan legitimasi yang berbeda-beda.The modern structure comprises Lhok, district and provincial Panglima Laot, each with a different source of legitimacy.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Apakah mengembalikan Panglima La’ôt ke dalam tata pemerintahan akan memperkuat atau justru membirokratisasi kepemimpinan nelayan?Would returning the Panglima Laot to formal governance strengthen fishers' leadership or merely bureaucratise it?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Panglima La’ôt”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/panglima-laot/