Tokoh
Tokoh · UlamaFigure · Ulama
Abu Dahlan Tanoh AbeeAbu Dahlan Tanoh Abee
l. 1943
2 keterkaitan dalam jejaringconnections in the network
Latar belakangBackground
Abu Dahlan Tanoh Abee, bernama lengkap Teungku Haji Muhammad Dahlan al-Fairusi al-Baghdadi, lahir pada 1943 dan wafat pada 18 November 2006 dalam usia 63 tahun sesudah beberapa tahun menderita penyakit jantung. Ia putra Teungku Muhammad Ali, penulis naskah Syattariyah yang mencatat silsilah spiritualnya, dan disebut keturunan langsung generasi kesembilan Syaikh Fairus, pendiri Dayah Tanoh Abee pada 1627; ia juga disebut cicit Teungku Chik Abdul Wahab Tanoh Abee, ulama pejuang yang wafat dalam pengasingan pada 1894. Sebagai pimpinan Dayah Teungku Chik Tanoh Abee di Seulimeum, Aceh Besar, ia menjadi penjaga koleksi manuskrip dayah itu, salah satu himpunan naskah Islam terbesar di Asia Tenggara yang konon pernah berjumlah sekitar 10.000 naskah sebelum menyusut menjadi sekitar 3.000–3.500 akibat perang, termasuk karya tasawuf Hamzah Fansuri dan Syamsuddin as-Sumatrani. Sesudah tsunami 2004 menghancurkan banyak repositori dokumen Aceh, ia makin terbuka kepada peneliti, dan di atas tanahnya dibangun perpustakaan naskah atas prakarsa PPIM UIN Jakarta bersama Manassa dan PKPM Aceh dengan dana CER Prince Claus Fund Belanda.
Abu Dahlan Tanoh Abee, full name Teungku Haji Muhammad Dahlan al-Fairusi al-Baghdadi, was born in 1943 and died on 18 November 2006, aged 63, after several years of heart disease. He was the son of Teungku Muhammad Ali, author of a Shattariyya manuscript recording his spiritual lineage, and is described as a ninth-generation descendant of Shaykh Fairus, who founded Dayah Tanoh Abee in 1627; he is also described as a great-grandson of Teungku Chik Abdul Wahab Tanoh Abee, the fighting ulama who died in exile in 1894. As head of Dayah Teungku Chik Tanoh Abee in Seulimeum, Aceh Besar, he was custodian of its manuscript collection, one of the largest Islamic manuscript holdings in Southeast Asia, said to have once numbered about 10,000 before war losses reduced it to around 3,000–3,500, including Sufi works by Hamzah Fansuri and Shamsuddin al-Sumatrani. After the 2004 tsunami destroyed many of Aceh's document repositories he opened the collection more widely to researchers, and a manuscript library was built on his land, initiated by PPIM UIN Jakarta with Manassa and PKPM Aceh and funded by the Prince Claus Fund's CER programme.
KeterkaitanConnections
KeluargaFamily 1
-
Teungku Chik Abdul Wahab Tanoh AbeeTeungku Chik Abdul Wahab Tanoh Abee
— cicit darigreat-grandson of
Lembaga & dayahInstitutions & dayah 1
-
Dayah Tanoh AbeeDayah Tanoh Abee
— penjaga koleksi manuskripkeeper of the manuscript collection
SumberSources
- potretonline.com/2025/04/23/teungku-chik-tanoh-abee-ulama-mujahid-dan-qadhi-rabbul-jalil-aceh
- kitab-kuneng.blogspot.com/2011/08/tgk-abu-dahlan-al-fairussy-al-baghdady.html
- aceh.kemenag.go.id/baca/dayah-tanoh-abee-pustaka-klasik-manuskrip-islam-sejak-era-iskandar-muda
- jurnalalqalam.or.id/index.php/Alqalam/article/download/185/168
← Semua tokoh dan jejaringnya← All figures and their network